-->

Belajar Melawan Arus FOMO dari Logika Ibnu Rusyd

Tidak ada komentar

Logika Ibnu Rusyd melawan FOMO

Sebelum kita bicara soal riuhnya dunia hari ini, saya ingin mengajak Anda kembali ke abad ke-12. Saat itu, lahir sebuah buku berjudul "Tahafut al-Tahafut" (Kerancuan dalam Kerancuan) karya filsuf besar Ibnu Rusyd atau Averroes.

Secara ringkas, buku ini adalah "serangan balik" intelektual. Ibnu Rusyd menulisnya untuk menjawab kritik dari Al-Ghazali yang sebelumnya menulis Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para Filsuf). Inti dari pesan Ibnu Rusyd sangat tegas: Logika dan akal tidak bertentangan dengan kebenaran, dan setiap klaim tanpa bukti yang kokoh hanyalah sebuah kerancuan berpikir. Ia menuntut kita untuk tidak hanya percaya pada asumsi, melainkan pada demonstrasi bukti yang sistematis.

Fenomena FOMO: Kerancuan Modern Kita

Nah, sekarang mari kita tarik konsep "pembuktian" Ibnu Rusyd ke tahun 2026. Saat ini kita menghadapi musuh baru yang bernama FOMO (Fear of Missing Out). Ini adalah kondisi di mana kita merasa cemas jika tidak mengikuti tren terbaru, entah itu investasi yang lagi viral, gadget yang paling mutakhir, hingga gaya hidup yang sedang populer di media sosial.

Jika Ibnu Rusyd hidup hari ini, mungkin ia akan menyebut FOMO sebagai salah satu bentuk kerancuan berpikir terbesar. Mengapa? Karena dalam FOMO, kita bertindak bukan berdasarkan logika atau kebutuhan nyata, melainkan berdasarkan "ketakutan" dan "ikut-ikutan". Kita menelan mentah-mentah apa yang dilakukan orang banyak tanpa pernah melakukan "demonstrasi" atau pembuktian apakah hal itu benar-benar bermanfaat bagi diri kita.

Makna dari Sudut Pandang Saya

Dalam perjalanan (journey) yang saya lalui belakangan ini, saya sering terjebak dalam arus tersebut. Ada tekanan tak kasat mata untuk selalu tampil "up-to-date". Namun, melalui kacamata Tahafut al-Tahafut, saya belajar untuk berhenti sejenak. Setiap kali dorongan untuk ikut-ikutan itu muncul, saya mulai bertanya: "Mana buktinya kalau ini memang penting buat saya? Atau ini hanya kerancuan yang saya ciptakan karena rasa takut?"

Menggunakan logika Ibnu Rusyd berarti berani untuk tidak menjadi bagian dari "kawanan" jika langkah kawanan tersebut tidak masuk akal. Ini adalah tentang mendapatkan kembali kendali atas diri sendiri. Kebenaran dan kebahagiaan kita tidak seharusnya ditentukan oleh algoritma atau tren mingguan, tapi oleh prinsip yang kita bangun dengan akal sehat.

Kesimpulan

Bagi saya, Tahafut al-Tahafut bukan sekadar teks sejarah. Ia adalah panduan untuk tetap waras di tengah dunia yang serba cepat. Ia mengajarkan saya bahwa lebih baik berjalan pelan dengan bukti yang nyata, daripada berlari kencang mengikuti arus kerancuan orang banyak.

Pernahkah Anda merasa lelah hanya karena mencoba mengikuti apa yang orang lain lakukan? Mungkin sudah saatnya kita kembali menggunakan logika untuk membedah mana yang benar-benar bernilai dan mana yang hanya kebisingan sesaat.

My Journey: Refleksi M. Nabil Dawami tentang bagaimana logika klasik Ibnu Rusyd bisa menjadi perisai ampuh melawan tekanan sosial dan fenomena FOMO.

Komentar