![]() |
| Ilustrasi memadukan logika teknis dan kebijaksanaan klasik dalam menyusun strategi hidup. |
Ada kalanya tekanan hidup di usia 20-an membuat kita merasa ingin menyerah sepenuhnya. Ketika puluhan lamaran kerja ditolak, ketika kode program terus menampilkan error yang tidak masuk akal, atau ketika rencana hidup melenceng jauh, respons psikologis termudah adalah bersikap fatalis. Kita memilih pasrah secara buta dan berharap akan ada "keajaiban" atau campur tangan langit yang tiba-tiba membereskan semuanya.
Sikap pasrah tanpa aksi nyata ini sering kali dibungkus dengan alasan spiritualitas. Kita mengira bahwa mengabaikan usaha dan logika adalah bentuk ketaatan tingkat tinggi. Namun, jika kita melihat perdebatan klasik antara para pemikir besar, sikap seperti ini justru sangat berbahaya bagi kemanusiaan kita.
Untuk menavigasi perasaan ini, mari kita buka kembali halaman Tahafut at-Tahafut (Kerancuan dalam Kerancuan). Melalui buku ini, Ibnu Rusyd merumuskan sebuah pembelaan yang sangat logis tentang mengapa kita tidak boleh membuang hukum sebab-akibat, dan mengapa Reclaiming Agency (merebut kembali kendali atas tindakan kita) adalah harga mati.
Anatomi Hukum Kausalitas dalam Pikiran Ibnu Rusyd
Pada seri artikel sebelumnya yang membahas Al-Ghazali, kita belajar bahwa hukum sebab-akibat itu tidak mutlak demi menghancurkan mitos hustle culture. Al-Ghazali menyatakan api membakar kapas bukan karena kemampuannya sendiri, melainkan karena kehendak Sang Pencipta. Itu sangat menenangkan saat kita gagal.
Namun, Ibnu Rusyd datang dengan perspektif penyeimbang yang tidak kalah tajam. Beliau menggugat: jika kita benar-benar menolak keniscayaan sebab-akibat di alam semesta ini, maka seluruh bangunan ilmu pengetahuan, logika, dan rasio manusia akan runtuh berantakan.
Menurut Ibnu Rusyd, Tuhan telah mendesain alam semesta dengan aturan dan pola yang teratur (kausalitas). Mengenali dan mempelajari pola bahwa "A menyebabkan B" adalah cara manusia memahami kebijaksanaan Tuhan. Menyangkal bahwa benda-benda memiliki sifat dan efek alamiah sama saja dengan menyangkal bahwa alam semesta ini bisa dipahami oleh akal.
Sintaksis Kehidupan dan Kebutuhan Akan Logika
Sebagai seseorang yang berkecimpung di bidang software engineering, argumen Ibnu Rusyd ini sangat relevan. Bayangkan jika sebuah bahasa pemrograman tidak memiliki hukum sebab-akibat yang pasti. Hari ini perintah print() mengeluarkan teks, tapi besok tiba-tiba memformat hard drive tanpa alasan yang jelas. Kita tidak akan pernah bisa membangun aplikasi apa pun di atas sistem yang kacau seperti itu.
Kehidupan juga membutuhkan "sintaksis" yang dapat diprediksi. Kita butuh keyakinan logis bahwa belajar sungguh-sungguh (sebab) akan meningkatkan kapabilitas kita (akibat). Kita butuh kepastian bahwa menyusun portofolio yang baik (sebab) akan memperbesar peluang kita dilirik perekrut (akibat).
Tanpa pengakuan terhadap hukum kausalitas, manusia akan kehilangan motivasi dasar untuk bertindak. Jika semuanya dianggap murni intervensi langit yang tak tertebak tanpa perlu ada sebab duniawi, lalu untuk apa kita repot-repot menyusun strategi hidup?
Merebut Kembali Kendali Diri (Reclaiming Agency)
Pemikiran Ibnu Rusyd mengajak anak muda untuk tidak menjadi makhluk pasif. Kita memiliki agency atau kapasitas untuk bertindak, merencanakan, dan mengeksekusi strategi. Kita tidak boleh berlindung di balik kata "pasrah" saat kita sebenarnya sedang malas merancang jalan keluar dari kemiskinan atau kebodohan.
Konsep berserah diri (tawakal) yang sehat bukanlah meninggalkan hukum sebab-akibat, melainkan memanfaatkannya secara maksimal terlebih dahulu. Kita membaca dokumentasi sistem, kita memperbaiki bug dalam kebiasaan kita, kita meningkatkan kompetensi teknis, dan kita membangun relasi yang solid.
Setelah seluruh struktur "sebab" ini kita bangun dengan kekuatan rasio dan eksekusi fisik, barulah kita menyerahkan variabel akhir kepada Sang Penguasa Algoritma Alam Semesta. Ini adalah keseimbangan yang membuat kita tetap waras namun tidak kehilangan daya juang.
Menyusun Ulang Algoritma Perjuangan
Dunia hari ini tidak kenal ampun. Persaingan karir semakin brutal dan kondisi ekonomi sering kali tidak berpihak pada kita. Mengandalkan keberuntungan murni adalah strategi bertahan hidup terburuk yang bisa kita pilih.
Membaca Ibnu Rusyd adalah menenggak suplemen keberanian. Akal, logika, dan kemampuan kita merangkai sebab-akibat adalah senjata utama yang harus kita asah setiap hari. Jangan biarkan kegagalan sesaat membuatmu meragukan kekuatan ikhtiar logis yang sudah kamu susun.
Bagaimana dengan pengalaman teman-teman? Pernahkah kalian berada di titik di mana rasanya ingin menyerah saja pada nasib, lalu menemukan momentum untuk kembali menyusun strategi dan melawan keadaan? Mari bagikan perspektif dan cerita kalian di kolom komentar!
Brain Food: Merenungkan urgensi hukum kausalitas (sebab-akibat) menurut Ibnu Rusyd sebagai landasan logis untuk terus berikhtiar dan tidak jatuh pada sikap pasrah yang pasif.
Referensi: Ibnu Rusyd. Tahafut at-Tahafut (Kerancuan dalam Kerancuan). Fokus: Pembelaan terhadap keberadaan hukum alam dan sebab-akibat demi mempertahankan validitas ilmu pengetahuan.
